Idul Fitri
5 June 2019

Mohon maaf lahir dan...

Penerimaan Rapor Kenaikan Kelas
31 May 2019

Penerimaan Rapot Semester II bagi kelas X dan...

Hari Kenaikan Tuhan Yesus
30 May 2019

Libur memperingati peristiwa kenaikan Isa Almasih atau kenaikan Yesus Kristus ke...

UAS Susulan dan Studi Ekskursi
27 May 2019

Ulangan Akhir Semester Susulan bagi siswa/siswi yang berhalangan hadir pada saat Ulangan Akhir Semester. Studi ekskursi bagi...

UAS Susulan dan Studi Ekskursi
25 May 2019

Ulangan Akhir Semester Susulan bagi siswa/siswi yang berhalangan hadir pada saat Ulangan Akhir Semester. Studi ekskursi bagi...

Ulangan Akhir Semester Genap SMA Kolese Gonzaga T.P. 2018/2019
20 May 2019

Ulangan Akhir Semester Genap SMA Kolese Gonzaga T.P....

Hari Raya Waisak
19 May 2019

Libur Hari Waisak: "selamat merayakan kelahiran, kesempurnaan, dan kematian Sang Buddha pada Hari Waisak, momen penuh sukacita,...

Ulangan Akhir Semester Genap SMA Kolese Gonzaga T.P. 2018/2019
13 May 2019

Ulangan Akhir Semester Genap SMA Kolese Gonzaga T.P....

SEMINAR KEBANGSAAN (Mengingat Kembali Jati Diri)

Pancasila yang Merekat, Pancasila yang Memikat. Kalimat tersebut menjadi tema dari Seminar Kebangsaan yang diadakan di SMA Kolese Gonzaga hari Rabu, 1 November 2017. Seminar ini diadakan sebagai bagian dari rangkaian Lustrum VI SMA Kolese Gonzaga. Dihardiri oleh siswa/i SMA Kolese Gonzaga dan berbagai sekolah lain, guru, dan para pemerhati pendidikan. Pembicara pada seminar ini adalah Dr. Nico Harjanto, Bapak Mohamad Sobary, Pater E. Baskoro Poedji Noegroho, SJ dan Prof.Dr Yudi Latif yang sayangnya berhalangan hadir, serta dipandu oleh Ibu Ira sebagai moderator. Ketiga pembicara yang hadir memiliki profesi yang berbeda-beda, tetapi memiliki ketertarikan dan kepedulian terhadap Pendidikan Pancasila di Indonesia, terutama di kalangan anak muda.

Diskusi mengenai Pancasila dibuka dengan sharing dari Dr. Nico tentang Upacara 17-an yang diadakan bulan Agustus lalu di Istana Negara. Para tamu yang hadir di acara tersebut masing-masing mengenakan pakaian daerah yang beragam dan berbicara dengan berbagai bahasa daerah, menurut Dr. Nico, hal ini merupakan salah satu cara untuk mempromosikan nilai Pancasila yang sekarang semakin tergerus karena munculnya ‘konsep’ lain yang lebih menarik. Menambah keseruan, Pak Sobary juga mengemukakan pendapatnya tentang Pancasila. Pancasila, seperti kata Bung Karno, adalah sebuah nilai yang digali dari hasil kebudayaan nenek moyang kita. Hal ini berarti, jauh sebelum Pancasila resmi dijadikan ideologi negara, nilai-nilai tersebut sudah menjadi bagian dalam diri kita sejak kita lahir. Maka, keberagaman suku dan agama yang ada di Indonesia juga menjadikan kita Pancasila, yang menyatukan kita. Nilai luhur yang sudah ada dalam diri kita inilah yang harus kita olah terus dan diperkaya untuk kemudian diajarkan kepada anak cucu kita.

Pembicaraan inipun kemudian sampai pada keprihatian hari-hari kini. Dimana nilai-nilai dari Pancasila dinilai semakin tergerus, diikuti pula menyebarnya berita-berita bohong yang menyebabkan distorsi. Dalam hal ini, solusinya terletak pada anak-anak muda yang menjadi penerus Pancasila kedepannya. Kita, kaum milenial adalah kaum yang tinggal di dunia dimana tidak ada lagi ‘batas’ antara budaya dan entitas masing-masing individu, tidak ada lagi tembok-tembok yang memisahkan dalam bentuk suku, agama, maupun budaya lama-kelamaan menjadi semakin luntur. Keadaaan macam ini juga membawa pengaruh-pengaruh dari luar yang berpotensi merusak kerukunan bangsa. Karenanya kita sebagai anak muda Indonesai harus selalu kritis memilah dan memilih konsep-konsep yang senantiasa hadir. Sebenarnya, kecenderungan anak muda sekarang adalah menghidupi nilai humanitarian yang sudah sejalan dengan Pancasila. Tugas kita hanyalah ‘membunyikan’ Pancasila agar tidak dilupakan keberadaan pentingnya.

Melengkapi penjelasan dari Dr. Nico dan Pak Sobarry, Pater Baskoro menjelaskan bahwa kepala burung Pancasila selalu menghadap ke kanan sebagai tanda bahwa Pancasila selalu mengundang seseorang untuk melakukan kebenaran. Namun, jika kemampuan memilih ini tidak pernah dilatih maka seseorang akan menjadi kurang peka. Karena inilah pendidikan Pancasila itu penting adagar dibiasaan baik dalam keluarga maupun di sekolah.

 

Seminar kemudian berlanjut dengan sesi tanya jawab. Pada sesi ini, diskusi terjadi engan sangat hangat, dimana beberapa guru, tamu undangan, dan murid bertanya, berdiskusi bahkan memberi saran. Mulai dari tips bagi anak muda yang ingin berkecimpung dalam dunia politik, promosi Pancasila dalam bentuk tren yang lebih menarik seperti slogan ‘Saya Pancasila, Saya Indonesia’, cara agar anak muda tidak tercengkram dengan munculnya fatwa-fatwa yang menentang Pancasila, bahkan hingga membahas isu yang masih cukup hangat saat ini, yaitu adanya istilah pribumi dan non pribumi.

Diskusi seminar berlangsung dengan sangat kondusif, kemudian diakhiri dengan pidato singkat dari Pater Koko, Kepala SMA Kolese Gonzaga, dan juga peluncuran buku yang ditulis oleh murid-murid SMA Kolese Gonzaga sebagai bentuk opini dan tidakan nyata anak muda bangsa dalam menghadapi berbagai masalah negara yang berjudul “Goresan Anak Senja”.

Seminar ditutup dengan pemberian kenang-kenangan kepada para pembicara, foto bersama, dan ditutup dengan doa dan menyanyikan lagu Mars Kolese Gonzaga. Benar-benar banyak sekali hal yang bisa kita pelajari sebagai anak muda untuk terus menghidupi Pancasila sebagai bagian dan pedoman hidup kita. Pancasila, lebih daripada sekedar nilai untuk dihafal dalam pelajaran PKn, tapi juga sebagai jati diri kita sebagai anak bangsa.