Sarasehan Kelas X-7

Sarasehan Kelas X-7

11 Januari 2014

Sebagaimana sarasehan kelas X-2 berlangsung dengan baik, sarasehan kelas X-7 yang diselenggarakan di salah satu rumah siswa kelas X-7, yaitu Arka, di Jl. Pejaten Barat No. 16B, Jakarta Selatan pada tanggal 11 Januari 2014 ini, juga berlangsung dengan baik dan hidup. Di dalam sarasehan tersebut ada beberapa pertanyaan dari siswa-siswi yang cukup menarik, diantaranya adalah bagaimana caranya agar siswa-siswi yang ingin masuk ke jurusan IPA bisa masuk ke dalam jurusan IPA? Satu pertanyaan ini melibatkan beberapa guru pengampu mata pelajaran IPA untuk menjawabnya, yaitu Ibu Kristal, pengampu mata pelajaran biologi, Bpk. Bambang Utomo, pengampu mata pelajaran Fisika, Ibu Odilia, pengampu mata pelajaran Kimia, dan Bpk. Widi, pengampu mata pelajaran matematika. Dari semua penjelasan para guru pengampu mata pelajaran IPA tersebut, hal  penting adalah mengerjakan latihan-latihan soal apabila mata pelajarannya melibatkan soal-soal perhitungan dan membuat ringkasan agar mudah menghafal bila mata pelajarannya biologi. Khusus biologi, menurut Bu Kristal, cara menghafal yang efektif adalah dengan melibatkan segala benda dan makhluk hidup yang ditemui sehari-hari, misalnya ketika belanja di pasar atau di mall, untuk dibahas dan dikaitkan dengan pelajaran biologi. Dengan demikian, pelajaran biologi menjadi pelajaran yang hidup dan menyenangkan. Hanya dengan ketekunan untuk mengerjakan soal dan membuat ringkasan, baik secara pribadi maupun komunal-lah pintu jurusan IPA terbuka bagi mereka yang berusaha.

Pertanyaan lain yang membuka wawasan para siswa kelas X-7 adalah tentang seberapa pengaruh nilai dari tugas-tugas mata pelajaran harian, khususnya sosiologi, bagi nilai akhir mata pelajaran. Pertanyaan ini dijawab oleh Bpk. Citra selaku guru pengampu sosiologi, Bp. Himawan, selaku wakil kepala sekolah bidang kurikulum, dan pater kepala sekolah bahwa presentasi penilaian tugas-tugas dan ulangan harian lebih besar dari pada presentasi nilai ulangan umum, yaitu 60:40. Maksudnya adalah bahwa yang menjadi perhatian utama pendidikan di SMA Kolese Gonzaga adalah proses pembelajaran sehari-hari itu sendiri, bukan melulu nilai akhir ulangan umum.

Pertanyaan penutup dari  sdr. Nando, seorang seminaris yang sekaligus anggota kelas X-7, yang ditujukan kepada para guru bahwa perubahan apa yang akan dilakukan para guru agar cara mengajar dan memberi nilai berubah menjadi lebih baik dijawab sendiri oleh Pater Winandoko, selaku kepala sekolah. Menurut beliau, yang seharusnya berubah bukanlah melulu para guru, melainkan para siswa-siswi sendiri. Seorang siswa-siswi kolese adalah seorang yang mau berubah dan menjadi gantungan bagi orang lain, bukan malah menggantungkan diri kepada orang lain. Untuk itulah, siswa-siswi Kolese Gonzaga bergabung ke dalam sekolah ini untuk dididik menjadi pribadi yang mandiri yang menjadi sumber dan gantungan bagi orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian, slogan men and women with and for others sungguh-sungguh terlaksana dalam setiap pribadi siswa dan siswi kelas X-7 khususnya, dan siswa-siswi SMA Kolese Gonzaga pada umumnya.