Idul Fitri
5 June 2019

Mohon maaf lahir dan...

Penerimaan Rapor Kenaikan Kelas
31 May 2019

Penerimaan Rapot Semester II bagi kelas X dan...

Hari Kenaikan Tuhan Yesus
30 May 2019

Libur memperingati peristiwa kenaikan Isa Almasih atau kenaikan Yesus Kristus ke...

UAS Susulan dan Studi Ekskursi
27 May 2019

Ulangan Akhir Semester Susulan bagi siswa/siswi yang berhalangan hadir pada saat Ulangan Akhir Semester. Studi ekskursi bagi...

UAS Susulan dan Studi Ekskursi
25 May 2019

Ulangan Akhir Semester Susulan bagi siswa/siswi yang berhalangan hadir pada saat Ulangan Akhir Semester. Studi ekskursi bagi...

Ulangan Akhir Semester Genap SMA Kolese Gonzaga T.P. 2018/2019
20 May 2019

Ulangan Akhir Semester Genap SMA Kolese Gonzaga T.P....

Hari Raya Waisak
19 May 2019

Libur Hari Waisak: "selamat merayakan kelahiran, kesempurnaan, dan kematian Sang Buddha pada Hari Waisak, momen penuh sukacita,...

Ulangan Akhir Semester Genap SMA Kolese Gonzaga T.P. 2018/2019
13 May 2019

Ulangan Akhir Semester Genap SMA Kolese Gonzaga T.P....

Pesta Rakyat Gonzaga, Cara Gonz Merayakan Hari Kemerdekaan

Pesta Rakyat Gonzaga, Cara Gonz Merayakan Hari Kemerdekaan

Bendera merah putih dan umbul-umbul berkibar di langit Pejaten Barat 10 A. Ini bulan Agustus, bulannya perayaan hari kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seperti pada tahun yang sudah-sudah, masyarakat Gonzaga selalu merayakan hari kemerdekaan NKRI dengan upacara bendera dan lomba-lomba. Meskipun libur, antusias siswa-siswi untuk datang ke acara perayaan hari kemerdekaan tetap tinggi. Sejak pukul 05.00 pagi, anggota paskibra telah berdatangan dan melatih kembali baris-berbaris sebelum akhirnya mereka berganti baju dan menggunakan seragam paskibra, peci hitam, kemeja putih lengan panjang, celana panjang, sepatu hitam fantovel dan sarung tangan putih. “Siap grak! Barisan Siap!”

Sejak kemarin sore suara-suara terompet bertiup riuh rendah di ruang musik seminari. Pagi ini pasukan Wacana Bhakti Symphony Orchestra sudah siap dengan instrumen-instrumen mereka di bawah climbing wall. Seragam setelan jas dan celana hitam serta ikat kepala tradisional hendak menyatakan bahwa meskipun alat musik mereka berasal dari Eropa, kepala mereka tetap Indonesia. Di bawah bimbingan bapak Widiatmo, kondakter Yohanes Ferbriyanto Rete memimpin WBSO untuk mengiringi lagu-lagu selama upacara bendera. Upacara berjalan dengan khidmat diiringi paduan suara “Surga” hingga pembubaran barisan oleh pemimpin upacara Timothy Simanjuntak.

Pater Rektor, TH. Sarjumunarsa SJ selaku pembina upacara menyampaikan tiga pesan sebagai amanat upacara. “Para sahabat yang mengasihi dan dikasihi Tuhan, Merdeka!”, sapa pater Rektor kepada peserta upacara yang disambut dengan pekik merdeka. Dalam amanat tersebut, pater rektor mengajak siswa untuk berjanji menjadi orang yang berdialog dengan semangat kebhinekaan, menghormati orangtua, dan menjadi pemimpin yang terlibat dengan masyarakat serta melindungi mereka yang miskin, kecil, dan tertindas. Setiap janji yang ditawarkan oleh pater rektor disambut dengan pekik merdeka oleh seluruh peserta upacara menandai persetujuan dan semangat untuk melaksanakan janji tersebut.

Seusai upacara, Ursula Toding dan Lorentia Lydia Margareth sebagai perwakilan Senat Gonzaga membacakan susunan acara bertajuk PERAK GONZ atau Pesta Rakyat Gonzaga yang akan diikuti oleh segenap anggota komunitas. PERAK GONZ dibagi menjadi dua sesi lomba. Sesi pertama adalah lomba memasak dan peragaan busana. Pada sesi pertama ini, setiap kelas mengirimkan perwakilannya dalam kelompok memasak masakan tradisional. Lomba memasak diselenggarakan di dalam gedung olahraga. Lomba memasak tidak hanya menguji pengetahuan siswa-siswi akan pengetahuan masakan tradisional dan cara memasaknya, tetapi juga kerja sama kelompok dan kecerdasan olah masak dalam memperlakukan bahan mentah dan bumbu menjadi masakan yang siap disantap. Bukankah memasak adalah budaya yang penting dalam melanjutkan kehidupan. Orang tua yang pandai memasak akan membuat anak-anak mereka tumbuh dalam kasih yang penuh.

Lomba kedua adalah peragaan busana. Dalam lomba ini setiap kelas mengirimkan sepasang peraga yang akan mengenakan pakaian adat. Peragaan busana ini diselenggarakan di bawah benderangnya pancaran sinar matahari lapangan basket. Kedua acara tersebut mendapatkan tanggapan yang luar biasa ramainya dari segenap komunitas. Peragaan busana adalah cara terbaik memperkenalkan pakaian daerah di Indonesia. Beragamnya pakaian adat dan serunya gaya para peraga menumbuhkan rasa cinta tanah air dalam diri setiap penonton yang hadir. Tak ada satupun yang tak berhenti berdecak kagum melihat pasangan-pasangan itu berjalan dan menunjukkan keunikan masing-masing.

Setelah pengumuman pemenang lomba sesi pertama dibacakan dan masakan dari para peserta lomba masak sudah ludes diserbu penonton, giliran lapangan sepak bola dan lapangan voli menjadi ramai oleh penonton dan peserta perwakilan dari semua kelas untuk mengikuti tiga jenis lomba yakni lomba Ledakan Ekor, Estafet Terigu, dan yang paling seru Piramida Manusia. Ketiga permainan ini menguji kerja sama dan siasat tim dalam menyelesaikan misi yang diberikan oleh panitia. Senyum, tawa, dan sukacita nampak di wajah-wajah para peserta lomba.

Guru, karyawan, hingga pater dan frater berbaur dalam suasana yang akrab itu. Seusai acara lomba-lomba tersebut, semua komunitas berkumpul di lapangan basket membentuk barisan, yang berbaju merah di sebelah selatan dan yang berbaju putih di sebelah utara. Kemudian dengan diputarnya lagu “Bendera” dari Band Coklat, seluruh komunitas melakukan sesi foto bersama yang dipandu oleh tim Media Gonzaga. Sesi foto ini dengan sempurna menutup pesta perak perayaan HUT NKRI hari itu.

Inilah perayaan Kehidupan Gonzaga, Inilah perayaan Persatuan Gonzaga, Inilah perayaan Kemerdekaan Indonesia. Dalam Kehidupan yang bersatu sehati sejiwa itulah tujuan bersama dicapai, dijaga, disyukuri, dan diperbarui. Dirgahayu NKRI ke-70. Merdeka!

AMDG