Idul Fitri
5 June 2019

Mohon maaf lahir dan...

Penerimaan Rapor Kenaikan Kelas
31 May 2019

Penerimaan Rapot Semester II bagi kelas X dan...

Hari Kenaikan Tuhan Yesus
30 May 2019

Libur memperingati peristiwa kenaikan Isa Almasih atau kenaikan Yesus Kristus ke...

UAS Susulan dan Studi Ekskursi
27 May 2019

Ulangan Akhir Semester Susulan bagi siswa/siswi yang berhalangan hadir pada saat Ulangan Akhir Semester. Studi ekskursi bagi...

UAS Susulan dan Studi Ekskursi
25 May 2019

Ulangan Akhir Semester Susulan bagi siswa/siswi yang berhalangan hadir pada saat Ulangan Akhir Semester. Studi ekskursi bagi...

Ulangan Akhir Semester Genap SMA Kolese Gonzaga T.P. 2018/2019
20 May 2019

Ulangan Akhir Semester Genap SMA Kolese Gonzaga T.P....

Hari Raya Waisak
19 May 2019

Libur Hari Waisak: "selamat merayakan kelahiran, kesempurnaan, dan kematian Sang Buddha pada Hari Waisak, momen penuh sukacita,...

Ulangan Akhir Semester Genap SMA Kolese Gonzaga T.P. 2018/2019
13 May 2019

Ulangan Akhir Semester Genap SMA Kolese Gonzaga T.P....

NONTON BARENG FILM “SENYAP”

NONTON BARENG FILM “SENYAP”

(Let The People Know Their History!)

 20140908Senyap_-_Joshua_Openheimer

9e

Bertepatan dengan hari Hak Asasi Manusia Sedunia, SMA Kolese Gonzaga mengadakan nonton bareng film dokumenter “SENYAP” garapan sutradara Joshua Oppenheimer dan Co-Sutradara Anonymous. Pemutaran film dilaksanakan pada hari rabu tanggal 10 Desember 2014 pada pukul 12.00-14.00 bagi kelas XI dan kelas XII di ruang diskusi perpustakaan SMA Kolese Gonzaga, sedangkan bagi kelas X pada hari Sabtu tanggal 13 Desember 2014 pukul 07.30-12.00 di Aula Seminari.

IMG-20141219-WA0000

Pemutaran film ini berkaitan dengan program bulanan AMSOGOBI (Amatorum Societas Gonzaga Bibliotheca/Kelompok Pencinta Perpustakaan Gonzaga). Bertepatan dengan jadwal pemutaran di bulan Desember, panitia pemutaran film “Senyap” berbaik hati memberikan secara cuma-cuma copy film, poster, serta buku petunjuk, sticker dan dua buah kartu pos bergambar film “Senyap”.

10e

Pemutaran film ini diawali dengan pembacaan puisi berjudul “???” yang ditulis oleh Indra dari komunitas Taman 65 Bali, dilanjutkan dengan pembacaan sajak “Suara” milik Penyair Wiji Thukul. Setelah itu, bapak T.B. Purwanto selaku guru sejarah memberikan pengantar mengenai latar belakang sejarah Gerakan 30 September, aktor-aktor dan peristiwa pembunuhan masal yang membuntutinya. Sebagai pembuka acara, pak TB menegaskan siswa-siswi untuk tidak melupakan sejarah.

Film yang berdurasi 98 menit tersebut bercerita tentang seorang lelaki bernama Adi yang mencari pembunuh kakaknya yang menjadi korban kekerasan pasca gagalnya Gerakan 30 September 1965. Digambarkan Adi mendatangi para pembunuh, ketua komando aksi pembunuhan serta pelindung komando pembunuhan yang masih menjabat sebagai anggota DPRD, juga korban yang selamat, dan keluarga korban pembunuh kakaknya.

Dalam film tersebut digambarkan bagaimana maksud kedatangan Adi yang menginginkan pengakuan dan perminataan maaf dari para pelaku akhirnya disambut dengan penolakan dan bahkan teror dan ancaman. Kesenyapan dan makna metaforis yang dimunculkan film melalui runtutan peristiwa dokumenter yang tidak selalu kronologis membuat film ini menjadi semakin kontemplatif dan bermakna. Semisal munculnya rekaman dokumenter kepompong, dialog anak dan nenek dengan kepompong, dan dokumenter bapak dari Adi yang merasa terjebak di sebuah rumah. Kepompong menjadi simbol perubahan metamorphosis sebuah sikap tapa yang menunggu perubahan dan yang kedua adalah simbol keterjebakan dan keterasingan dari dunia dalam situasi korban.

Simbol lain yang mendapatkan respons dari siswa-siswi adalah kacamata. Bagi beberapa anak, kacamata adalah sarana basa-basi agar dapat masuk ke dalam pembicaraan masalah yang mendalam khususnya Adi ingin membicarakan perihal pembunuhan yang dilakukan pembunuh kepada kakaknya. Bagi Hiskia Siappudan, kacamata adalah simbol cara memandang. Bagaimana kita memandang korban dan pelaku kekerasan ditentukan oleh kacamata apa yang kita gunakan.

Pada hari Jumat, 13 Desember 2014, anak-anak diperkenankan langsung bertanya kepada Co-Sutradara Anonymous melalui akun Skype Anonymous.TAoK. Banyak pertanyaan terlontar mengenai siapa itu PKI dan bagaimana konsep-konsep PKI sehingga para pelaku pembunuhan menjadi begitu tega, atau apakah ada kemungkinan bahwa para pelaku pembunuhan meminum pil atau cairan tertentu yang membuat mereka menjadi sangat berani. Kesempatan untuk mendengarkan penjelasan dari pihak korban kekerasan yang diwakili oleh Anonymous.TAoK menjadi pengalaman tersendiri bagi siswa-siswi karena tidak pernah ditulis dan ditampilkan dalam buku-buku sejarah kurikulum pemerintah. Siswa-siswi mendengarkan kisah bagaimana guru SD memaksa Anonymous untuk setuju bahwa PKI itu kejam dan tidak mau menerima adanya kisah-kisah lain. Hal itulah yang akhirnya mengawali kerja kreatif Co-Sutradara Anonymous untuk mengumpulkan data dan cerita-cerita yang terkait dengan pembunuhan anggota PKI dan orang-orang yang di-PKI-kan.

Disamping mendengarkan penjelasan dari Co-Sutradara Anonymous, Anak-anak juga mendengarkan sharing dari Ibu Christina Purwanti seorang guru Bahasa Indonesia yang pada masa 1965-1966, almarhum bapakknya turut menjadi korban tahanan politik walaupun almarhum seorang anggota Partai Katolik, namun dianggap tidak bersih karena bekerja di lingkungan di mana terdapat organisasi underbow PKI. Serta beberapa kisah mengenai kerasnya anggota pemuda rakyat kepada pemuda Katolik yang berlatih koor di sekolah, dan kesedihan anak-anak pemuda Katolik karena hilangnya seorang guru matematika dari sekolah setelah kejadian G30S di Lubang Buaya.

Melalui kegiatan “nonton bareng” ini, anak-anak dibuka mengenai sejarah bangsa mereka. Bahwa nyatanya memang terjadi pembunuhan besar-besaran yang membuntuti peristiwa Gerakan 30 September Lubang Buaya. Melalui film ini, anak-anak juga diajak untuk selalu mengingat sejarah, kemudian memberanikan diri bertanya pada orangtua dan keluarga masing-masing, dan dengan itu melakukan rekonsiliasi di dalam keluarga masing-masing.

AMDG