Idul Fitri
5 June 2019

Mohon maaf lahir dan...

Penerimaan Rapor Kenaikan Kelas
31 May 2019

Penerimaan Rapot Semester II bagi kelas X dan...

Hari Kenaikan Tuhan Yesus
30 May 2019

Libur memperingati peristiwa kenaikan Isa Almasih atau kenaikan Yesus Kristus ke...

UAS Susulan dan Studi Ekskursi
27 May 2019

Ulangan Akhir Semester Susulan bagi siswa/siswi yang berhalangan hadir pada saat Ulangan Akhir Semester. Studi ekskursi bagi...

UAS Susulan dan Studi Ekskursi
25 May 2019

Ulangan Akhir Semester Susulan bagi siswa/siswi yang berhalangan hadir pada saat Ulangan Akhir Semester. Studi ekskursi bagi...

Ulangan Akhir Semester Genap SMA Kolese Gonzaga T.P. 2018/2019
20 May 2019

Ulangan Akhir Semester Genap SMA Kolese Gonzaga T.P....

Hari Raya Waisak
19 May 2019

Libur Hari Waisak: "selamat merayakan kelahiran, kesempurnaan, dan kematian Sang Buddha pada Hari Waisak, momen penuh sukacita,...

Ulangan Akhir Semester Genap SMA Kolese Gonzaga T.P. 2018/2019
13 May 2019

Ulangan Akhir Semester Genap SMA Kolese Gonzaga T.P....

Misa Rabu Abu Kolese Gonzaga

Misa Rabu Abu Kolese Gonzaga

 7

            Rabu, 18 Februari 2015 Kolese Gonzaga merayakan hari Rabu Abu, yang merupakan hari pertama dalam masa prapaskah sebagai liturgi tahunan gereja. Hari Rabu Abu sendiri ditentukan jatuh tepat 40 hari sebelum hari Paskah. Pada umumnya, kebanyakan sekolah Katolik meliburkan murid-muridnya untuk dapat pergi mengikuti misa di gereja bersama orang tua. Namun, pemandangan lain terjadi di Kolese Gonzaga. Murid-murid tetap masuk ke sekolah untuk mengikuti proses belajar-mengajar atau hari belajar efektif yang kemudian dilanjutkan dengan misa pada pukul 12.00 siang. Durasi setiap jam pelajaran pun dikurangi sehingga siswa maupun siswi dapat mengikuti misa tanpa mengesampingkan untuk tetap dapat pulang sekolah tepat waktu.

Misa Rabu Abu yang bertema “Tiada Syukur Tanpa Peduli” ini dipimpin oleh Pater Th.S. Sarjumunarsa, SJ. atau akrab disapa Pater Sarju, yang merupakan Pater Rektor Seminari Wacana Bhakti. Misa yang diiringi oleh Suara Gonzaga atau SurGa, memperindah suasana misa yang tenang dan khusyuk. Dalam misa ditekankan mengenai 3 hal penting dalam hari Rabu Abu yaitu “Doa, Puasa, dan Derma” serta pesan untuk mau saling berbagi bagi mereka yang memiliki sikap rendah hati.

2

Pater Sarju, dalam homilinya, meminta Bpk. Isharmanto untuk maju ke depan altar dan menanyai beliau mengenai refleksi pribadinya sebagai contoh pencerminan rasa syukur akan hidup. Kemudian, Pater Sarju menyampaikan mengenai 3 anggota tubuh yang perlu dijaga saat berpuasa yaitu ”Mata, Mulut, dan Tangan”. Beliau memberikan contoh mengenai kepeduliaan akan lingkungan sekolah. “Apakah kita akan membuka mata kita akan sampah yang ada di sekitar lingkungan sekolah? Apakah mulut kita bersedia untuk tidak mengeluh atau bersungut-sungut dan tidak menunjuk orang lain untuk mengangkatnya? Apakah tangan kita mau untuk mengambil sampah tersebut dan membuangnya?”

Bila dilihat dari tema Misa Rabu Abu tahun ini “Tiada Syukur Tanpa Peduli”, tema tersebut mencerminkan dinamika hidup beriman yang semakin ekaristis seperti yang tertuang dalam Surat Gembala Pra Paskah Tahun 2015. Tema tersebut juga mengajarkan bahwa “Siapkah diri kita untuk mau dipecah-pecah dan dibagikan kepada yang membutuhkannya bagaikan roti dalam perjamuan Yesus dan murid-murid-Nya?” Pengertian dipecah-pecah dalam pertanyaan tersebut dapat kita artikan sebagai proses. “Apakah kita mau diproses dalam hidup ini untuk mau mengalahkan rasa egois kita dan mau untuk peduli terhadap sesama kita yang membutuhkan ?” Dengan tema ini, kita dituntut untuk mau semakin peduli terhadap sesama di tengah perkembangan zaman yang cenderung mengedepankan kepentingan masing-masing pribadi. Selain itu, dengan memberi, kita dapat menemukan kebahagiaan atau sukacita sejati yang tidak dapat ditemukan dalam benda atau materi apapun, sehingga kita dapat menemukan arti tujuan hidup yang sebenarnya.

Setelah homili, misa pun dilanjutkan dengan ‘Doa Pemberkatan Abu’ yang diberikan oleh para Pater dan Frater Kolese Gonzaga. Seluruh siswa diundang untuk menerimanya tanpa terkecuali. Sebab, pemberian tanda salib dari abu di dahi kita, merupakan simbol berkat dan mengingatkan kita akan ritual Israel kuno di mana seorang menabur abu di atas kepalanya atau di seluruh tubuhnya sebagai tanda kesedihan, penyesalan, dan kemauan akan pertobatan maupun kefanaan manusia. Sedangkan pemberian Abu dalam agama Katolik merupakan peringatan bagi kita bahwa Tuhan menciptakan manusia pertamanya dari abu (tanah). Dengan pemberian abu, manusia diingatkan mengenai jati diri yang sebenarnya bahwa manusia berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah, sehingga kita menjadi lebih rendah hati dan mau menyadari segala kekurangan dan ketidaksempurnaan kita.

8  6

5 1 4

Setelah doa penutup, misa pun berakhir, seluruh siswa maupun siswi bersiap untuk pulang atau melanjutkan kegiatan ekstrakurikuler. Demikianlah perayaan Hari Rabu Abu di kampus kita tercinta, Kolese Gonzaga. Semoga Hari Rabu Abu ini memberikan makna yang dalam bagi kita semua.

AMDG!

Oleh: Sammuel Reinhart XIPA