Eksamen

Examen Conscientiae

Apa itu Examen?
Santo Ignasius dari Loyola mengadaptasikan Examen sebagai doa singkat (15 menit) yang dilakukan 2 kali sehari kapan pun, di mana pun (yang paling sesuai). Sebagian besar orang senang melakukan Examen ketika istirahat makan siang dan di malam hari ketika hendak tidur. Saat makan siang, Anda melihat kembali bagaimana hari itu berjalan dari pagi hingga siang hari sambil menyiapkan diri menjalani separo hari sisanya. Di malam hari, Anda melihat kembali harimu dari siang (ketika makan siang) hingga saat Anda melakukan Examen malam ini dan menyiapkan diri menyambut hari esok.
Dalam Examen, kita memutar kembali pengalaman masa lalu yang baru saja kita alami untuk menemukan Tuhan yang hadir dan berkat-berkat yang dianugerahkan-Nya dalam hidup kita. Kita juga melihat kembali momen- momen dalam sehari di mana mungkin kita dilukai oleh pengalaman tertentu, atau saat-saat di mana kita jatuh berbuat dosa atau kesalahan. Kita bersyukur atas berkat-berkat yang kita terima. Kita mohon ampun atas kerapuhan dan mohon disembuhkan dari luka-luka yang dialami. Setelah merefleksikan hari yang berlalu, kita juga menatap hari esok dan memohon agar Tuhan menunjukkan tantangan dan peluang yang mungkin dapat kita alami. Kita memohonkan rahmat-rahmat yang sekiranya dibutuhkan untuk menjalani hari esok dengan lebih baik: kesabaran, kebijaksanaan, penguasaan diri, kedamaian, optimisme, dll. Kita percaya bahwa Tuhan menghendaki agar hari kita berjalan baik.

Beberapa Kiat Sebelum Memulai

A. Buatlah Singkat

Disarankan agar Examen dibuat tidak lebih dari 15 menit. Salah satu ciri khas dari doa ini adalah tidak bertele-tele, bisa dilakukan kini-di sini, seperti mesin cuci “cepat cuci, cepat kering, langsung pakai”, atau player musik yang “tinggal colok kabel dan play”. Examen tidak dimaksudkan untuk menjadi atau memberikan sebuah pengalaman (rohani atau mistik) yang mendalam. Examen dirancang untuk menjadi momen sederhana kini-di sini untuk mengingatkanku akan kehadiran Tuhan dan mengarahkan hidupku pada-Nya. Hal ini bukan berarti bahwa tidak ada hal yang besar atau penting yang dapat terjadi selama Examen.

Biasanya, Examen dilakukan di tengah jam kerja atau di akhir hari yang panjang dan melelahkan. Maka, Examen memang dimaksudkan untuk menjadi cara berdoa yang benar-benar kini-di sini dan tidak membutuhkan tahap-tahap meditasi yang lengkap. Beberapa orang merasa terbantu dengan memasang alarm atau jam weker selama 10 sampai 15 menit supaya mereka tidak perlu bolak-balik melihat jam.

B. Loncatlah ke Bagian-Bagian Tertentu Saja

Aku tidak perlu terlalu terpaku untuk mengikuti tuntunan Examen yang disediakan setahap demi setahap. Aku tidak harus menunggu jawaban dari
suatu tahap sebelum berlanjut ke tahap berikutnya. Examen bukanlah soal matematika! Tuntunan yang ada lebih berfungsi untuk memberi pertimbangan bagiku mengenai titik tertentu mana yang kira-kira di sana Tuhan ingin menunjukkan “sesuatu” padaku. Proses ini bisa diibaratkan seperti orang tua yang membantu anaknya mencari telur Paskah, “Mungkin di situ nak? Sudah ke sebelah sana blom?” Ketika aku menemukan titik itu, aku meninggalkan hal-hal yang lain dan tinggal di sana bersama Tuhan selama beberapa saat sebelum berlanjut.

C. Jangan Terjebak Kedosaan

Sayangnya, Examen Ignasian terlalu sering dimengerti sebagai Pemeriksaan Hati (dalam Latihan Rohani 30 hari). Memang, keduanya membuatku melihat kembali hidupku secara menyeluruh. Namun, keduanya punya tujuan yang berbeda. Pemeriksaan Hati (dalam Latihan Rohani 30 hari) bertujuan menyiapkan diriku untuk melakukan pengakuan dosa dan menerima Sakramen Rekonsiliasi sedangkan Examen Ignasian lebih luas dari itu. Tujuan dari Examen Ignasian adalah untuk melihat secara utuh bersama Tuhan hidupku yang telah-sedang-akan aku hidupi. Yang ditinjau  tidak melulu sisi-sisi negatifku melainkan juga sisi-sisi positif dalam hidupku.

Merefleksikan kedosaanku adalah salah satu anugerah yang terkandung dalam Examen Ignasian. Namun, aku harus berhati-hati agar tidak terjebak pada rasa bersalah, kedosaan, kegagalan. Berkutat dengan kedosaan – merefleksikannya, meratapinya, mencari jalan pertobatan darinya – sama saja membuatku terpusat dan sibuk dengan diriku sendiri.

D. Pelihara Nuansa Doa

Karena terlalu praktis, terkadang kesadaran bahwa Examen merupakan doa bisa hilang dan berganti menjadi sekadar latihan belaka. Agar esensinya sebagai doa tetap terjaga, maka Examen harus berpusat pada Tuhan. Maksudnya,
  • Kumohon Tuhan sendiri yang membimbing. Aku meminta Tuhan untuk menunjukkan padaku bagaimana Ia memandang hari yang telah kulalui.
  • Aku bercakap-cakap dengan Tuhan dan bukan bicara dengan diriku sendiri.
  • Aku mendengarkan suara Tuhan. Dengan mata batinku, aku melihat apa yang dilakukan Tuhan. Apa yang ingin Ia katakan padaku saat ini? Apakah Ia tersenyum padaku? Apakah Ia mendengarkanku dengan penuh perhatian? Apakah Ia hanya diam dan terasa jauh?
Tuhan memang lebih sering “diam” dan oleh karenanya Ia dapat terasa sangat jauh. Iman kita mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah jauh – Ia hadir
dalam setiap molekul di tubuh kita. Tetapi kita sering tidak merasakan kehadiran Tuhan. Tidak apa-apa! Jangan khawatir. Pengalaman ini normal dan bahkan juga dirasakan para Kudus dari Teresa Avila, Teresa Lisieux, hingga Teresa Calcutta. Untuk menjadi doa, kita tidak perlu merasakan kehadiran Tuhan setiap saat, kita hanya perlu mengarahkan diri pada-Nya, terorientasi pada-Nya. Kita sebenarnya tidak harus mendengar Tuhan yang berbicara, kita hanya perlu membuka telinga untuk mendengarkan jika seandainya Ia mengatakan sesuatu. Selama kita terbuka untuk mendengarkan, kita akan semakin terarah pada-Nya, entah Ia mengatakan sesuatu atau tidak.

E. Awali dan Akhiri Examen dengan Caramu Sendiri

Baik apabila kita mulai mengembangkan cara-cara pribadi untuk memulai dan mengakhiri Examen. Beberapa orang memulai Examen mereka dengan mendoakan Bapa Kami, atau menyanyikan lagu singkat seperti “Amazing Grace”, atau dengan mengulang-ulang ayat favorit dari Kitab Suci. (“Hatiku siap, ya Allah. Hatiku siap.” – Mzm 57: 7) Orang lain ada yang membungkuk terlebih dahulu di suatu tempat untuk menjadikannya sebagai tempat berdoa. Orang Katolik biasanya akan membuat tanda Salib. Beberapa orang merasa  terbantu dengan perlahan-lahan menarik dan menghembuskan napas panjang. Intinya, aku memiliki cara yang sederhana, singkat, dan khusuk untuk mulai masuk ke dalam doa dan mengakhirinya untuk kembali ke hidup harian.

Examen Ignasian Tradisional

Santo Ignasius menyarankan 5 tahap berikut; mencecap-cecap (Relish) anugerah yang kuterima, memohon (Request) bimbingan Roh Kudus, memutar kembali (Review) hariku, melakukan pertobatan (Repent) atas kesalahan-kesalahanku, dan membangun niat (Resolve) untuk hidup lebih
baik di hari esok.
  1. Kumulai Examen-ku seperti biasanya.
  2. Pertama, aku mencecap-cecap. Kumohon pada Tuhan untuk menunjukkan semua anugerah dan rahmat yang telah Ia berikan padaku hari ini, dari yang sangat besar (hidupku, rasa aman, kasih-sayang) hingga yang tampak amat kecil (tidur malam yang nyenyak, telepon yang meneguhkan dari seorang teman, pekerjaan yang dapat diselesaikan, sebuah pujian untukku). Untuk setiap anugerah yang muncul, kuambil beberapa saat untuk mensyukurinya dan memuji keagungan Tuhan.
  3. Kedua, aku memohon. Karena aku membutuhkan bantuan Tuhan untuk lebih realistis dalam melihat kerapuhanku dari sudut pandang cinta-Nya yang penuh belas-kasih, kumohon agar Ia mencurahkan Roh Kudus-Nya atas diriku. Kuminta pada-Nya untuk memimpinku dan mendahului langkahku selama proses doa ini, daripada memberi celah padaku untuk menjadikannya renungan obsesif atas hal-hal yang tidak kusukai dari diriku.
  4. Ketiga, aku memutar kembali. Dari jam ke jam, kuputar kembali hariku. Dalam imajinasiku, aku menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman penting dalam hariku. Aku tinggal pada momen-momen penting itu.
  5. Keempat, aku mohon ampun dan bertobat. Sembari meneliti hariku, aku terus bersyukur pada Tuhan atas semua anugerah yang kujumpai. Namun sekarang, aku berhenti sejenak pada pengalaman-pengalaman tertentu – ketika aku memikirkan sesuatu yang buruk, mengatakan hal yang seharusnya tak kukatakan, atau melakukan tindakan yang kurang pas. Kuperhatikan pula kesempatan-kesempatan yang kulewatkan, semisal ketika aku sebenarnya mampu bersikap lebih Kristiani namun tidak. Ketika aku menemukan saat-saat di mana aku belum sepenuhnya menjadi diriku yang sesuai dengan panggilan terdalamku, aku berhenti sejenak dan memohon pengampunan dari Tuhan. Kucoba untuk merasakan belas kasih-Nya yang menyembuhkan membasuhku, membuatku bersih dan utuh kembali.
  6. Kelima, aku membangun niat. Dari apa yang kukenali selama waktu berdoa ini tentang diriku dan hidupku, kumohon pada Tuhan untuk menunjukkan padaku, secara konkret, bagaimana Ia menginginkanku menanggapi-Nya atau apa yang Ia kehendaki untuk kuperbuat besok. Mungkin, lebih penting lagi, aku memohon pada-Nya agar Ia berkenan menunjukkan panggilan-Nya bagiku untuk menjadi pribadi seperti apa esok hari. Aku membangun niat untuk menjadi pribadi seperti itu. Aku juga bisa membuat semacam komitmen untuk mendukung niat itu. Kumohon bantuan Tuhan untuk menjadikan diriku seturut kehendak-Nya.
  7. Kuakhiri Examen-ku seperti biasanya.

Suatu contoh Examen Conscientiae:

Usahakanlah Engkau duduk dengan relaks dan damai. Bagi yang masih berjalan, berhentilah barang sejenak di tempat yang membuatmu nyaman dan tenang.
  1. Bersyukurlah kepada Allah atas hal-hal yang Engkau syukuri.
  2. Mintalah kepada Roh Kudus untuk membantumu melihat kembali perjalanan hidupmu selama sehari ini
  3. Tanyailah dirimu sendiri (Hal positif ):
    • Hal baik apa saja yang telah kualami hari ini?
    • Hal baik apa saja yang telah kulakukan hari ini?
    • Bersyukurlah atas hal-hal baik tersebut
  4. Tanyailah dirimu sendiri (Hal Negatif ):
    • Hal-hal tidak baik apa saja yang kualami hari ini: yang mengganggu batinku, yang membuatku frustrasi, yang menyakiti hatiku atau yang membuatku bersedih?
    • Hal-hal kurang baik apa saja yang telah Engkau lakukan.
  5. Katakanlah kepada Allah tentang harimu ini, misalnya mintalah Allah untuk membantumu agar persoalanmu dapat teratasi dengan baik atau mohon ampunlah kepada Allah atas pikiran, perkataan, dan tindakan kurang baik yang Engkau lakukan hari ini.
  6. Apa yang dapat kulakukan untuk memperbaiki diriku untuk esok hari.

Eksamen-eksamen Tematik:

Tema: Kejujuran
Untuk memulai eksamen, duduklah dengan rileks, bernapaslah secara teratur, dan kita buat tanda kemenangan Kristus, “Dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Amin.”
Pejamkanlah mata, rasakan perasaan-perasaan yang muncul dalam hati… fokuslah pada perasaan yang dominan… rasakan dan jadilah hening. Dalam keheningan ini tengok kembali bagaimana hari ini aku bersikap dan berperilaku jujur:
  • Apakah aku jujur kepada diri sendiri, kepada orang tua, maupun kepada teman-teman?…
  • Apakah aku jujur dalam menggarap tugas maupun jujur dalam mengerjakan ulangan? …
  • Apakah aku berlaku jujur bukan hanya karena diawasi atau karena takut sanksi, melainkan karena aku suka pada kejujuran dan aku tidak bisa lain daripada berlaku jujur? …
  • Bukankah kita merasa puas dan berharga jika kita berhasil meraih nilai ulangan yang baik dengan jujur?
Ingatlah dan rasakanlah, sadari semua itu sebagaimana adanya.
Mari kita teladani sikap jujur dan tidak mencari muka dari Yesus, Guru, dan Tuhan kita, agar kita tidak angin-anginan, tidak sekadar mencari aman, melainkan berani memihak yang benar.
Jika teman-teman tergerak oleh sesuatu yang dirasa bermakna, baiklah hal itu ditulis dalam buku jurnal harian supaya menjadi khazanah berharga yang tidak mudah terlupakan …
Mari kita akhiri eksamen siang ini dengan berdoa: Tuhan, ajarlah kami bersikap jujur dan tidak mencari muka. Ajarlah kami bersikap berani dan tegas melawan ketidakjujuran. Amin.
Tema: Sikap Murid
Untuk memulai eksamen, ambil sikap duduk yang pantas untuk berdoa, dan kita buat tanda kemenangan Kristus, “Dalam nama Bapa, Putra, dan Roh
Kudus. Amin.” Pejamkan mata, dengarlah suara-suara di sekitar, dengarlah suara hatimu sendiri … dan jadilah hening.
Dalam keheningan ini tengok kembali perjalanan hari ini:
  • Bagaimana aku mempersiapkan pembelajaran hari ini? …
  • Bagaimana aku mengikuti pengajaran dari guru-guru? …
  • Apakah aku mengerjakan tugas atau ulangan dengan jujur dan teliti? …
  • Apakah aku bersikap proaktif dan sportif? …
  • Apakah aku tulus berbagi tetapi juga rela untuk dievaluasi? …

Perhatikanlah pengalaman paling berkesan dan cermati pengalaman itu hendak mengajarkan apa padaku.

Mari kita timbang-timbang pengalamanku hari ini dengan interaksi Yesus Sang Guru dan Tuhan bersama dengan para murid-Nya, yang membimbing dengan lembut dan keras.

Jika teman-teman tergerak oleh sesuatu yang dirasa bermakna, baiklah hal itu ditulis dalam buku jurnal harian supaya menjadi memori berharga yang tidak mudah terlupakan …
Mari kita akhiri eksamen siang ini dengan berdoa: Tuhan, tumbuhkan dalam diri kami sikap seorang murid yang siap belajar dari peristiwa gembira
atau duka supaya kami semakin berarah kepada kesempurnaan kami masing-masing. … (doa-doa lain). Amin.
Tema: Tanggung Jawab atas Talenta
Untuk memulai eksamen, duduklah dengan rileks, bernapaslah secara teratur, dan kita buat tanda kemenangan Kristus, “Dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Amin.”
Pejamkan mata, sadari perasaan-perasaan tubuh kita mulai dari kepala, badan, kaki, dan sebaliknya … Sadari perasaan paling dominan, mungkin rasa penat atau pening, .. dan jadilah hening.
Dalam keheningan ini ingatlah kembali bagaimana aku memanfaatkan daya-daya jiwa sejak bangun pagi hingga siang hari ini:
  • Apakah aku giat dan aktif atau loyo dan malas? Apakah aku aktif menggunakan ingatan ataukah aku cuek dan melotot saja? …
  • Apakah aku aktif berpikir sebagai seorang pelajar ataukah sibuk bermain seperti kanak-kanak? …
  • Apakah aku sudah memenuhi kewajibanku, yakni wajib menghargai orang lain, wajib menyediakan sumbangan pendidikan, wajib mendengarkan pengajaran dari guru, wajib membuat catatan yang tuntut, wajib ikut merawat sarana dan prasarana sekolah, wajib turut menjaga kebersihan lingkungan? …
  • Sebaliknya, sudahkah aku memperoleh hak yang semestinya, yakni hak dihargai, hak mendapat layanan pembelajaran yang memuaskan, hak bertanya, hak memakai sarana dan prasarana pendidikan, hak mendapat bimbingan pribadi, hak atas kondisi belajar yang kondusif? … Ingatlah dan rasakanlah, sadari semua itu sebagaimana adanya.
Jika teman-teman tergerak oleh sesuatu yang dirasa bermakna, baiklah hal itu ditulis dalam buku jurnal harian supaya menjadi kekayaan pribadi berharga yang tidak mudah terlupakan.
Marilah kita berdoa: Tuhan, ajarlah kami memahami dan menepati hak dan wajib secara benar. Ajarlah kami hidup bermakna bagi kami sendiri maupun orang lain yang membutuhkan, demi kemuliaan-Mu dan demi keselamatan kami. Amin.
Tema: Terima kasih atas …
Aku mulai eksamen seperti biasa. Spontan, kubuka percakapan dengan Tuhan mengenai hal-hal, orang-orang, dan pengalaman-pengalaman yang
membuatku merasa sangat bersyukur. Kukatakan pada-Nya,“Tuhan, terima kasih atas …” dan kuberi kebebasan bagi pikiranku untuk berkelana dari satu anugerah ke anugerah lain dalam hidupku, tanpa menyetirnya ke sana atau sini dengan kesadaranku. Kucermati apa yang sedang dikatakan hati dan jiwaku pada Tuhan saat ini. Setelah itu, aku catat beberapa hal agar menjadi memori berharga bagiku. Lalu aku tutup Eksamen ini dengan doa Bapa Kami.
Tema: Maafkan aku karena …
Aku mulai eksamen seperti biasa. Lalu, pada Tuhan kukatakan hal-hal, orang-orang, dan pengalaman-pengalaman yang membuatku merasa tidak enak, bersalah, buruk. Kukatakan pada-Nya,“Tuhan, maafkan aku karena …” dan kubiarkan diriku melanjutkannya. Kudengarkan dengan seksama apa yang sedang dikatakan hati dan jiwaku pada Tuhan saat ini. Setelah itu, aku catat beberapa hal agar menjadi memori berharga bagiku. Lalu aku tutup Eksamen ini dengan doa Bapa Kami.
Tema: Bantulah aku dengan …
Aku mulai eksamenku seperti biasa. Dengan Tuhan kubicarakan hal-hal, orang-orang, dan pengalaman-pengalaman yang akan kujumpai di masa depan di mana aku membutuhkan pertolongan Tuhan. Aku bicarakan pula dengan Tuhan akan hal, orang, dan pengalaman di mana saat ini aku membutuhkan bantuan-Nya. Sambil memikirkan hari ini dan yang akan datang tersebut, kuberdoa, “Tuhan, bantulah aku dengan …” dan kubiarkan diriku melanjutkannya. Kuperhatikan apa yang sedang dikatakan hati dan jiwaku pada Tuhan saat ini. Setelah itu, aku catat beberapa hal agar menjadi memori berharga bagiku. Lalu aku tutup Eksamen ini dengan doa Bapa Kami.

The Traditional Examen Prayer

  1. I get into a comfortable position. I let my muscles relax and mind quiet down. I take a deep breath and ask God to make his presence known around and in me. I feel this presence and soak in it.
  2. I ask God to reveal all the gifts and graces he has given me today, from the big ones (life, safety, love) to the small ones (a good night’s sleep, a phone call from a friend, a compliment). I thank to God for each of the gifts.
  3. I ask God to fill me with his merciful love. I ask God to be the leader of this prayer time, rather than obsessing over myself or the day.
  4. Going hour by hour, I review my day. In my imagination, I relive each significant moment of my day. I linger in the important moments and pass quickly over the less relevant ones.
  5. I continue thanking God for the gins I find in my day. I pause at any of the difricult moments of my day. I pay attention to any missed opportunities, when I could have acted in a certain way but didn’t. When I find moments in which I was not the person I was called to be, I ask God forgiveness. I try to sense his healing mercy wash over me.
  6. I ask God to show me concretely, how he wants me to respond or what he wants me to do tomorrow. I ask God to show me what kind of person he is calling me to be tomorrow. I resolve to be that person and ask God for His help.
  7. I ask myself if there are any last words I wish to say to the Lord.
  8. I close with one or two of the following gestures: I make the sign of the cross, bow, or say an Our Father.

The Examen: Habits

  1. I begin in my usual way.
  2. I spend a few moments in gratitude, thanking God for one or two of the blessings, big and small, that I’ve received today: the good mood I woke up in, a kind word from a friend, my undeserved good health, an easy commute to work, another day with my wonderful spouse.
  3. Looking over my day, I ask God to show me a few of my habits. I try to see my one thought or action today that is actually typical of the way I think or act. For example, I may find myself saying to Christ, “Lord, looking over my day, I see that I am in the habit of . . .”
    • criticizing and nitpicking my friends, faculty and staffs, teachers.
    • staying focused on my work, once I’ve had a strong cup of coffee
    • putting myself down for the smallest things
    • wasting time on the Internet
    • greeting people warmly when they walk in the door
  4. It’s usually easier to see my unhealthy habits than to see the healthy ones. When I do find an unhealthy habit, I speak with God about it. Perhaps I’ll  ask God for forgiveness, or for healing, and for ideas about how to break the habit.
  5. But I don’t want to settle for simply looking at my bad habits. I won’t rest until I find a couple of good habits in my day today. When I do find them, I will give thanks and praise. I speak to God about why I’m so grateful for this good habit.
  6. I now look to tomorrow. What bad habit do I want to break? What good habit do I want to cultivate? What graces will I ask God for in order to help me break these particular bad habits and grow these particular good habits? I speak with God about this.
  7. I end in my usual way.

The Examen: Most Important Moments

  1. I begin in my usual way.
  2. I spend a few moments in gratitude, thanking God for one or two of the blessings, big and small, that I’ve received today.
  3. I ask God to show me the most important moment of this day—the moment that had the biggest impact on me or on others, whether that impact be physical, spiritual, or emotional. Why was it so important? How was I feeling, deep down? Were there any negative thoughts or emotions that I did not admit to having (for example, fear of rejection)? Was I spiritually free or unfree in that most important moment? What were the consequences of that moment? As appropriate, I give thanks, I ask for forgiveness, I ask for healing.
  4. If I wish and have the time to do so, I can return to my review of the day, asking God to show me another important moment of the day. I talk with God, using the same questions above. Again, I give thanks, ask for forgiveness, ask for healing.
  5. Now, I look to tomorrow. Specifically, what do I think will be my most important moment tomorrow? What are my great desires for that moment? I allow my great desires to well up within me. I place these desires in God’s hands and ask God to make them holy. I ask God to show me what grace or virtue I need to be the person I want to be at that moment. I ask for that grace or virtue.
  6. What other important moments may I experience tomorrow? I talk with God, using the reflection questions above.
  7. If I feel called to do so, I make a concrete resolution to be the kind of person I feel called to be.
  8. I end in my usual way.